LIFESTYLE - COMMUNITY

115-classic-community-1Klasik bukan berarti jadoel (jaman doeloe) lho... Ternyata di era yang serba digital, masih ada-ada orang-orang yang masih menghargai nilai-nilai estetika dan sejarah produk budaya jaman ABG (angkatan babe gue) atau malah jaman kakek-neneknya.

 

Bermula dari kegemarannya terhadap pernak-pernik aksesoris perempuan, Citra Aisyah, bersama adiknya membentuk Komunitas Klasik Indonesia. Komunitas yang mengumpulkan para penggemar dan kolektor produk-produk klasik dibawah tahun 80-an.
Mulai dari barang-barang fashion, alat transportasi, musik, film, makanan sampai bangunan sejarah tempo dulu. “Kita mengkhususkan pada kebudayaan Indonesia,” ulas Citra. Produser di sebuah radio Jakarta ini, senang sekali mengumpulkan barang-barang fashion keluaran jaman neneknya masih muda. Menurutnya barang-barang tersebut punya daya tarik tersendiri yang takkan kusam oleh waktu.
 
 Dia benar-benar memanfaatkan waktunya dengan baik jika berlibur ke rumah nenek di Jawa Timur, untuk meminta diwariskan barang-barang sang nenek. Padahal orang tuanya sendiri tidak terlalu fanatik dengan barang-barang dari jamannya. Namun, kebetulan si adik juga tertarik pada hal klasik, khususnya film-filmnya.
Keisengan dua bersaudara ini menggagas grup di Facebook, ternyata direspon positif beberapa teman-temannya hingga beranggotakan 100 orang lebih. 28 Juni 2009 kopi darat pun dilangsungkan sekaligus pertemuan perdana KKI.

Janjian di Museum Gadjah, naik sepeda onthel keliling kota, hingga numpang kongkow di perahu phinisi KLMPearl. “Kami juga mengadakan diskusi, sekali-sekali kami undang budayawan, pemain teater.
Pertemuan reguler biasanya sebulan sekali, kumpul-kumpul pengurus,” ujar perempuan yang paling suka tahun ‘60. Sedangkan soal keanggotaan, KKI tidak membatasi umur dan profesi. “Yang penting cinta Indonesia, suka yang klasik dan suka kumpul,” tutur Citra.

Text : Immanuel T  - Photographer : Citra Aisyah - VOL 115 - 2010